Yayasan Giat Aksi Sejahtera

Logo gas PNG
Rahasia Bahagia: Melihat yang Ada, Bukan yang Tiada

Rahasia Bahagia: Melihat yang Ada, Bukan yang Tiada

Pernahkah Anda merasa bahwa sebanyak apa pun yang telah dicapai, rasanya masih ada yang kurang? Di era media sosial saat ini, kita sering kali terjebak dalam jendela kehidupan orang lain. Kita melihat pencapaian mereka, liburan mereka, atau harta mereka, lalu tanpa sadar mulai membandingkannya dengan hidup kita sendiri.

Akibatnya, kita menjadi buta terhadap tumpukan nikmat yang sedang kita genggam, hanya karena mata kita terlalu sibuk mencari apa yang belum ada.

Jebakan “Kekurangan” dalam Pikiran

Dalam psikologi Islam, ada penyakit hati yang disebut dengan ketidakpuasan terhadap ketetapan Allah. Rasulullah SAW telah memberikan resep sederhana namun sangat kuat bagi kita untuk menjaga kewarasan hati:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Masalah utama kita sering kali bukan karena kekurangan nikmat, melainkan karena kurangnya fokus. Kita menghabiskan 90% energi kita untuk memikirkan 10% hal yang belum kita miliki, sehingga 90% nikmat yang sudah nyata di depan mata justru terabaikan.

Menumbuhkan Sifat Qana’ah

Qana’ah adalah merasa cukup dengan apa yang ada. Ini bukan berarti kita kehilangan ambisi untuk maju, melainkan sebuah bentuk kemerdekaan jiwa. Orang yang qana’ah tidak diperbudak oleh keinginan yang tak berujung.

Bagaimana cara mulai melihat “yang ada”?

  1. Audit Nikmat: Luangkan waktu 5 menit sebelum tidur untuk mendaftarkan hal-hal kecil yang berjalan baik hari ini (kesehatan, makanan yang enak, atau sekadar tawa kecil dengan keluarga).
  2. Batasi Konsumsi Visual: Jika melihat unggahan tertentu di media sosial membuat Anda merasa “kurang”, berikan jeda atau berhentilah mengikuti akun tersebut sementara waktu.
  3. Ucapkan Alhamdulillah dengan Sadar: Jangan biarkan kalimat ini hanya menjadi zikir di lisan, tapi rasakan getarannya di hati saat Anda menyadari betapa banyaknya kemudahan yang Allah berikan.

Penutup

Kebahagiaan tidak datang kepada mereka yang memiliki segalanya, tapi kepada mereka yang bersyukur atas apa yang mereka miliki. Ketika kita berhenti menghitung apa yang hilang dan mulai menghargai apa yang tersisa, di sanalah kita akan menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

Allah Ta’ala berfirman:

“…Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menentukan jumlahnya…” (QS. Ibrahim: 34)

Mari kita ubah sudut pandang kita hari ini. Fokuslah pada apa yang ada, maka yang tiada tidak akan lagi menyiksa jiwa.

Artikel Lainnya