Yayasan Giat Aksi Sejahtera

Logo gas PNG
Sabar dan Syukur: Dua Sayap Kehidupan Beriman

Sabar dan Syukur: Dua Sayap Kehidupan Beriman

Dalam perjalanan hidup, setiap insan pasti akan melewati dua keadaan yang tidak terhindarkan: mendapatkan nikmat dan menghadapi musibah. Dalam Islam, kunci untuk meraih kebahagiaan sejati dan kestabilan spiritual terletak pada respons kita terhadap kedua keadaan tersebut. Respons tersebut diwakilkan oleh dua pilar utama: Sabar dan Syukur.

Sabar dan syukur ibarat dua sayap bagi seorang mukmin. Tanpa salah satunya, ia tidak akan mampu terbang menuju derajat kesempurnaan iman dan rida Allah.


1. Sabar: Pilihan untuk Tetap Tegar di Tengah Badai

Sabar (ṣabr) bukanlah berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan menahan diri dari keluh kesah, emosi negatif, dan tindakan yang dilarang, saat menghadapi kesulitan, musibah, atau godaan maksiat.

Dalam Islam, sabar dibagi menjadi tiga jenis utama:

a. Sabar dalam Ketaatan (Ta’at)

Menahan diri dari rasa malas, bosan, atau lelah saat melaksanakan perintah Allah (seperti bangun subuh untuk shalat, berpuasa di siang hari yang panjang, atau bersungguh-sungguh mencari nafkah halal).

b. Sabar Menghindari Maksiat

Menahan diri dari godaan hawa nafsu dan bisikan setan untuk melakukan perbuatan dosa (seperti ghibah, curang, atau melihat yang terlarang).

c. Sabar Menghadapi Musibah

Menerima takdir buruk dengan hati yang lapang, tanpa menyalahkan takdir atau berputus asa. Sabar tertinggi adalah sabar pada saat pertama kali musibah itu menimpa.

Nilai Sabar: Allah SWT menjanjikan balasan tanpa batas bagi mereka yang bersabar: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)


2. Syukur: Menggandakan Nikmat dan Menghindari Kufur

Syukur (shukr) adalah pengakuan tulus akan segala nikmat yang diberikan Allah—baik nikmat besar maupun sekecil apa pun—yang diikuti dengan penggunaan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak-Nya.

Syukur memiliki tiga dimensi:

a. Syukur Hati (Qalbi)

Meyakini dan mengakui dalam hati bahwa segala kebaikan, harta, kesehatan, dan kemampuan yang dimiliki berasal murni dari karunia Allah, bukan semata karena usaha sendiri.

b. Syukur Lisan (Lisanī)

Mengucapkan pujian dan terima kasih kepada Allah (Alhamdulillah, Maa shaa Allah), serta berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara nikmat tersebut.

c. Syukur Perbuatan (‘Amalī)

Menggunakan nikmat yang diberikan untuk ketaatan kepada Allah. Contoh: Menggunakan kesehatan untuk beribadah, menggunakan harta untuk bersedekah dan membantu sesama, serta menggunakan akal untuk menuntut ilmu.

Konsekuensi Syukur: Syukur adalah jaminan untuk bertambahnya nikmat, sementara kufur (mengingkari nikmat) adalah ancaman akan dicabutnya nikmat tersebut: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)


3. Integrasi: Sabar dan Syukur dalam Praktik Hidup

Sabar dan syukur bukanlah dua ibadah yang terpisah, melainkan bersatu dalam setiap momen kehidupan seorang mukmin.

Sabar adalah Syukur yang Tertunda: Ketika menghadapi musibah, seorang mukmin bersabar karena ia bersyukur atas nikmat yang masih tersisa dan bersyukur bahwa ujian tersebut tidak lebih besar dari yang mampu ia tanggung. Ia bersabar karena tahu bahwa sabar itu sendiri adalah nikmat dari Allah.

Syukur Menguatkan Sabar: Ketika seseorang bersyukur atas nikmatnya iman dan Islam, ia akan lebih mudah bersabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Hadis yang Merangkum: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, dan sabar itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Kesimpulan:

Sabar dan Syukur adalah tanda kedewasaan iman. Sabar mengajarkan kita untuk tetap berdiri tegak saat diuji, sementara syukur mengajarkan kita untuk membungkuk rendah saat diberi. Dengan menjaga kedua sayap ini, seorang hamba akan mampu menjalani kehidupan dunia dengan damai, mengubah kesulitan menjadi peluang pahala, dan memastikan langkahnya mantap menuju rida Allah SWT.

Artikel Lainnya