Kata “moving on” sering kali kita dengar dalam konteks hubungan yang kandas, kegagalan karier, atau hilangnya sebuah kesempatan emas. Secara harfiah, ia berarti bergerak maju. Namun, dalam realitasnya, melepaskan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidup kita tidak pernah menjadi perkara mudah. Ada rasa sakit, kehilangan, dan ketidakpastian tentang masa depan yang sering kali menahan langkah kita untuk melangkah.
Jika kita mencari sebuah mahakarya tentang bagaimana manusia harus melakukan moving on dalam skala yang paling agung, kita perlu menengok kembali sejarah 14 abad silam: Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Hijrah bukan sekadar perjalanan geografis atau pelarian dari persekusi. Lebih dari itu, hijrah adalah sebuah cetak biru (blueprint) tentang seni keikhlasan, keberanian memulai dari nol, dan kepasrahan yang aktif.
1. Seni Melepaskan Tanpa Membenci
Makkah adalah tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di sanalah rumahnya, tempat kenangannya bersama Khadijah RA, dan tanah air yang sangat ia cintai. Ketika beliau diusir oleh kaumnya sendiri, ada luka emosional yang mendalam. Dalam sebuah riwayat, saat hendak meninggalkan Makkah, Nabi sempat menatap kota itu dan bersabda dengan penuh kerinduan:
”Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang paling baik dan bumi yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar.” (HR. Tirmidzi)
Pelajaran penting untuk kita adalah bahwa moving on tidak menuntut kita untuk amnesia atau membenci masa lalu. Nabi mengajarkan kita bahwa menyayangi apa yang telah berlalu itu manusiawi, namun bertahan di tempat yang tidak lagi menghargai pertumbuhan kita—atau bahkan merusak kita—adalah sebuah kekeliruan. Seni keikhlasan dimulai saat kita mampu berkata, “Aku mencintai masa lalu ini, tapi aku harus berjalan maju demi masa depanku.”
2. Keluar dari Perangkap Zona Nyaman
Bagi para sahabat Nabi (kaum Muhajirin), meninggalkan Makkah berarti meninggalkan seluruh aset: rumah, harta benda, bisnis, dan bahkan keluarga yang berbeda keyakinan. Mereka memilih menjadi “tunawisma” di kota baru demi sebuah prinsip dan masa depan yang lebih baik.
Di zaman sekarang, banyak dari kita terjebak dalam lingkaran yang toksik—baik itu hubungan yang tidak sehat, pekerjaan yang menggerogoti kesehatan mental, atau kebiasaan buruk—hanya karena tempat-tempat tersebut terasa “familiar” dan nyaman. Kita sering kali takut akan ketidakpastian di luar sana.
Jika kita memilih mentalitas bertahan di zona nyaman yang toksik, fokus kita hanya akan tertuju pada ketakutan akan kehilangan, dan energi kita habis untuk meratapi nasib. Sebaliknya, jika kita memilih mentalitas “hijrah”, fokus kita akan bergeser pada harapan akan pertumbuhan dan kedamaian baru. Kita menjadi berani menghadapi ketidaknyamanan jangka pendek demi kebahagiaan jangka panjang.
3. Strategi vs. Pasrah: Keseimbangan Tawakal
Banyak orang mengira moving on atau ikhlas adalah tindakan pasif—hanya diam berpasrah pada waktu sembari berharap keajaiban datang. Hijrah Nabi mengajarkan hal yang sebaliknya. Keikhlasan Nabi dibersamai dengan strategi yang sangat matang dan terukur.
Beliau tidak langsung lewat jalur utama, melainkan memutar ke arah selatan untuk mengecoh musuh. Beliau menyewa penunjuk jalan profesional karena keahliannya, dan bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk meredam pengejaran.
Artinya, saat kita ingin menyembuhkan diri dari masa lalu, kita harus punya rencana aksi yang nyata. Hapus atau simpan foto-foto lama jika itu membantu proses pemulihan, batasi interaksi yang memicu luka (no contact), cari lingkungan baru, dan sibukkan diri dengan hobi atau karier baru. Ikhlas adalah kerja keras hati yang dibersamai dengan ikhtiar fisik yang cerdas.
4. Menemukan “Anshar” Baru di Kehidupan Kita
Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian. Mereka disambut hangat oleh kaum Anshar yang dengan sukarela membagi rumah, harta, dan makanan mereka.
Ini adalah pesan penting bagi siapa saja yang sedang mencoba menyembuhkan diri: jangan mengisolasi diri. Saat Anda terluka dan mencoba melangkah maju, carilah “Kaum Anshar” di hidup Anda. Mereka bisa berupa sahabat yang selalu berpikiran positif, keluarga yang menyayangi tanpa syarat, atau bahkan bantuan profesional seperti psikolog. Lingkungan yang sehat dan suportif akan mempercepat proses adaptasi Anda di “Madinah” yang baru.
Penutup: Akhir yang Manis dari Sebuah Keikhlasan
Sejarah mencatat bahwa keputusan Nabi dan para sahabat untuk moving on berbuah manis. Beberapa tahun setelah hijrah, mereka tidak hanya berhasil membangun peradaban yang kuat, adil, dan makmur di Madinah, tetapi mereka juga berhasil kembali ke Makkah (Fathul Makkah). Mereka kembali bukan sebagai pengungsi yang kalah dan penuh dendam, melainkan sebagai pemenang yang penuh dengan pemaafan.
Jika hari ini Anda sedang berjuang melepaskan sesuatu—entah itu orang yang Anda cintai, impian yang kandas, atau masa lalu yang kelam—ingatlah peristiwa hijrah. Melepaskan sesuatu demi kebaikan diri dan karena ketaatan kepada-Nya tidak akan pernah membuat Anda kehilangan. Justru, itu adalah cara semesta mengosongkan tangan Anda dari hal-hal kecil, agar di masa depan, tangan Anda siap menerima sesuatu yang jauh lebih besar dan berkah. Selamat berhijrah, selamat belajar seni keikhlasan.


